Monday, December 13, 2010

tentang batas dan bulu mata

Lucu memang Murakami. Ia mengasosiasikan seksualitas dengan bulu mata palsu, yang dalam bukunya, The Wind-Up Bird Chronicle, dikenakan oleh Creta Kano bahkan di siang hari, menandingi gemerlapnya matahari, atau justru mengamplifikasi yang-telah-terang.

Saya mendambakan dunia yang dihidupi manusia tanpa harimaunya, di mana kegaduhan sebagaimana layaknya tercipta melalui intensitas pandangan mata, keberadaan yang nyata, dan percikan kimiawi dalam kerja. Pendek kata, mekanisme yang sederhana adanya, seklasik percaya yang tumbuh dari rasa yang menyentuh raga, atau kesadaran saling menjaga.

Namun saya tahu, dan terus-menerus diingatkan, bahwa adalah pilihan sadar untuk melarut dalam pertarungan ini. Yang saya tak tahu adalah umbul-umbul dalam perang ini adalah nama, dan tombaknya adalah kejahatan wanita. Musuh, dalam pertarungan ini, adalah gerak-gerik dan intuisi diri. Memang tak tepat jika kemelarutan ini disebut "pertarungan melawan batas-batas", karena batas-batas, yang awalnya saya kira sang musuh, justru adalah amunisi yang pamungkas, jalan keluar yang nantinya mungkin menyelamatkan.

Yang lalu hadir adalah kegamangan. Saya tak lagi bisa menarik garis-garis nilai, tabel ukuran-ukuran, kategori anggukan dan gelengan. Kali ini, yang menjadi titik tolok keraguan bukan lagi perbedaan diri dan apa yang saya anggap "dunia ruang-sistem". Itu lagu lama. Seringnya saya berharap kembali berada di tengah kolektivitas nilai yang dahulu saya cibir saja, di mana setidaknya jika saya lari dan menghindar, saya tahu saya sedang berlari dari tempat asal saya. Namun saat ini, tak ada yang "asal". Hanya ada batas diri yang nantinya menjadi "akhir".

Lucu memang Murakami. Selama ini ia ternyata adalah penulis yang sederhana. Ia menulis tentang dunia nyata saja.

- Special thanks to M.R., The Disciple, for his "Consider me a stranger" that one evening after work.

0 observations: