Ketika berlarian dengan masa yang memangsa, kau impikan makna yang tidak didasarkan hierarki rasa, melainkan ia yang terbentuk dan terurai dalam jaringan acuan lewat momen suspensi.
Mungkin kita telah dikutuk; the sisyphus digging for the imperfection which would discover the audience, imposing the eventually amongst the actually.
Mari.
Bangkit adalah duduk terdiam, beku, dan merentang mengundang keterkejutan.
Bangkit adalah menjunjung karya, menuntaskannya, pun jika kau memilih membunuhnya kembali.
Bangkit adalah membangunkan malam, mendobrak keterlelapan. Bangkit adalah memenuhi undangan pagi, menyambutnya, atau bahkan menidurinya sebagai yang bukan repetisi.
Bangkit adalah menggilas malumu, malumu untuk mendengar suaramu: dengan lantang mengakui tiap ketercekatan, dengan lega menerima tiap keraguan yang tak terhindarkan.
Bangkit adalah meninggikan pagar menghadang kedekatan wajah-wajah yang tak henti melewatimu, lalu merajutnya sebagai selimut yang bercerita tentang kebersatuan, tentang samudra yang menyelimuti benua dalam hatimu.
Kata mereka kita memang terkutuk, untuk terus berkutat dengan sejarah kita: bangkit, berkejaran dengan perjuangan melawan lupa.
Or perhaps let us forget and get carried away, menarikan penciptaan yang tak usai.
Mungkin kita telah dikutuk; the sisyphus digging for the imperfection which would discover the audience, imposing the eventually amongst the actually.
Mari.
Bangkit adalah duduk terdiam, beku, dan merentang mengundang keterkejutan.
Bangkit adalah menjunjung karya, menuntaskannya, pun jika kau memilih membunuhnya kembali.
Bangkit adalah membangunkan malam, mendobrak keterlelapan. Bangkit adalah memenuhi undangan pagi, menyambutnya, atau bahkan menidurinya sebagai yang bukan repetisi.
Bangkit adalah menggilas malumu, malumu untuk mendengar suaramu: dengan lantang mengakui tiap ketercekatan, dengan lega menerima tiap keraguan yang tak terhindarkan.
Bangkit adalah meninggikan pagar menghadang kedekatan wajah-wajah yang tak henti melewatimu, lalu merajutnya sebagai selimut yang bercerita tentang kebersatuan, tentang samudra yang menyelimuti benua dalam hatimu.
Kata mereka kita memang terkutuk, untuk terus berkutat dengan sejarah kita: bangkit, berkejaran dengan perjuangan melawan lupa.
Or perhaps let us forget and get carried away, menarikan penciptaan yang tak usai.
2 comments:
tumben,telanjang..,
Gw terlalu romantis untuk jadi ninja di Hari Kebangkitan Nasional, hihi
Post a Comment