Aku tak akan berpura-pura, aku membayangkan seperti apa kamu sekarang. Aku mencoba melukismu dengan cat air berwarna masa lampau. Toh aku ingat betul seperti apa warnamu: sabana yang dihangatkan matahari dan terus-menerus disapa angin dingin sebelum sampai Hargo Dumilah, diiringi “I think our rocking chairs used to rock together all night.”
Namun berhenti di situ saja. Padahal aku merasa harus mengantisipasi sekeping dentuman yang herannya tak kunjung datang.
Barangkali rasa, setiap kali ia muncul, sebenarnya sudah berupa memori. The pure present is an ungraspable advance of the past devouring the future. Sensasi tentangmu adalah imaji yang telah menghablur menjadi asap ingatan, yang sekali dua kali dapat melayang naik ke batas horizon mata akal. Seperti aroma yang bisa membangkitkan kenangan atas suatu fragmen tempat dan waktu di masa lalu, membuat bulu-bulu emosi sekilas bergidik, namun tak berarti keinginan untuk menjadikannya ada dan berlangsung kini. Atau, seperti kata sahabatku, sama halnya dengan detak jantung yang sejenak terasa melambat menyaksikan matahari terbit, yang mungkin biangnya adalah gen-gen purba dalam kenangan diri atas pengalaman menyaksikan terang pertama.
No comments:
Post a Comment