Friday, July 11, 2008

dry dessert of presence

Di ranjangku aku kembali mengais hampa
Ketika itu aku telah memilih untuk
menjejak kuat
dan rusuk pun membelesak
Kata-kata terlepas dari belenggu makna,
nafas membungkus setiap detak
Ingin rasanya ekor mataku mendesak teriak
mempersembahkan bagimu sekuntum ragu
Tetesan ini bernama penggapaian
yang menari mengundang
melalui ketersembunyiannya dari balik pangkal ombak
Sungguh, pagi telah kita cambukki
seiring dengan keterikatan sebentuk ungkapan
di atas pasak bernama belalak mata
Segalanya untuk melumpuhkan kaki waktu
Aku hanya ingin terbenam di lenganmu..

3 comments:

Advanced International Economics at FEUI said...

bo! lo kasih merah jadi makin "berdarah" gini.. hehehe..
kenapa ngga oranye ??

Raisa Kamila said...

Kak Titis....!

Anonymous said...

sangat meledak-ledak untuk sebuah ungkapan rindu, dari sini sebuah sebuah ungkapan diperoleh "usia tak bisa menipu",
untuk itu Chairil Anwar bersedia mati muda.

selamat menikmati kemudaan.

raungan kesunyian, itu kali yaa terjemahan judul blognya.

tulisannya bagus, seorang kawan merekomendasikan, si Ninin.

bni